Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknik Budidaya Cabai Rawit Untuk Pemula

Tenik Budidaya Cabai Rawit

Tenik Budidaya Cabai Rawit

 

Tenik Budidaya Cabai Rawit

Pada saat harga cabai rawit melambung tinggi tentunya sangat banyak petani ataupun teman-teman milenial yang sebelumnya belum pernah menanam cabai rawit kemudian ingin menanmnya. Hehe, pasti semua orang tertarik dengan harga jualnya tinggi dan meraup untung besar. Namun sebelum menanam hal yang harus dipelajari adalah teori dasar sebelum praktek agar tidak terjadi kesalahan dalam budidaya. Berikut ini beberapa teknik dasar budidaya cabai rawit :

1. Persemaian

Media persemaian yang ideal  dan disarankan adalah campuran tanah dengan kompos yang steril dengan perbandingan 1:1. Kemudian benih ditabur diatas media dan ditambahkan tanah tipis sebagai penutup. Benih disiram kemudian ditutup daun pisang atau plastik untuk menjaga kelembaban Selama 5-7 hari. Pada saat bibit sudah berumur kurang lebih 30-35 hari setelah semai atau telah mempunyai 4-5 helai daun bibit sudah bisa dipindah ke lahan. 

2. Pengolahan Lahan

Sebelum melakukan penanaman terlebihbdahulu harus dilakukan pengolahan lahan. Jika lahan yang digunakan tegalan atau lahan kering, maka dicangkul terlebih dahulu sedalam 30-35 cm. Selain itu saat pengolahan lahan tanah dicampur dengan pupuk kotoran kambing atau ayam dengan tujuan sebagai sumber nutrisi organik untuk tanaman. Pembersihan lahan dari sisa tanaman sebelumnya juga harus dilakukan agar tidak menjadi sumber penyakit apalagi cabai rawit sangat rentan terhadap penyakit.

Bedengan dibuat dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 40 cm dan panjang menyesuaikan lahan. Jarak antar bedeng kurang lebih 50 cm untuk memudahkan perawatan. Sebelum bedeng ditutup dengan mulsa permukaan tanah diberikan kapur tipis-tipis untuk menetralkan pH jika kondisi tanah masam. Permukaan bedengan dibuat agak setengah lingkaran untuk mempermudah pemasangan mulsa plastik hitam perak.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan ketika bibit sudah umur 30-35 hari setelah semai atau sudah muncul 4-5 daun. Jarak tanam yang digunakan pada umumnya adalah 70 cm x 70 cm. Pada jarak tanam yang telah ditentukan dibuat lubang tanam pada mulsa plastik dengan menggunakan kaleng yang dipanaskan. Buat lubang tanam dan lubang pemupukan dengan kedalaman 15-20 cm dan diameter 20-25 cm, dan dibiarkan satu malam dulu baru besoknya dilakukan penanaman. 

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan terdiri dari penyulaman, penyiraman, pemasangan ajir, penyiangan, dan pemupukan. Berikut penjelasan lebih detailnya :

  • Penyulaman 

Penyulaman dilakukan terhadap bibit tanaman cabai rawit yang mati. Maksimal penyulaman 2 minggu setelah tanam. 

  • Penyiraman 

Penyiraman harus diperhatikan supaya tanaman tidak kekeringan dan mati terutama musim kemarau. Pemberian mulsa plastik hitam perak selain berfungsi untuk menjaga kelembapan tanah. Pada musim penghujan pengaturan drainase harus diperhatikan agar lahan tidak tergenang air, karena hal tersebut dapat meningkatkan serangan penyakit akibat kelembaban yang tinggi.

  • Pemasangan ajir 

Ajir yang dipasang berupa bilah bambu setinggi kurang lebih 1 m di dekat tanaman. Tujuan pemasangan ajir yaitu untuk menjaga tanaman tidak roboh ketika terkena angin dan hujan apalagi jika tanaman rimbun. 

  • Penyiangan 

Penyiangan dilakukan terhadap rumput liar atau gulma yang tumbuh didekat tanaman. Pada umumnya dilakukan ketika umur tanaman kurang lebih 1 bulan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kompetisi tanaman pokok dengan gulma dalam menyerap unsur hara. 

  • Pemupukan 

Pemupukan dilakukan menyesuaikan kondisi lahan penanaman. Kebutuhan pupuk cabai rawit diantaranya : pupuk kandang 10-30 ton/ha, urea 200-300 kg/ha, SP-36 200-300 kg/ha dan KCl 150-250 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dan kapur pertanian dilakukan saat pengolahan lahan. Pupuk buatan diberikan pada umur 14 hari setelah tanam  dengan memberikannya pada lubang pemupukan yang berada 5-7 cm disamping lubang tanan. Pemupukan pertama umumnya dilakukan dengan cara dilarutkan. Pemupukan berikutnya 2 minggu setelah pemupukan pertama. Tanaman cabai rawit merupakan tanaman tahunan yang masih dapat berproduksi sampai 2-3 tahun maka sebaiknya dilakukan pemupukan ulang sesuai kondisi tanaman agar produksinya terjaga.

5.  Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Hama dan penyakit pada tanaman cabai rawit sangatlah beragam dan banyak. Oleh karena itu sebelum menanan cabai rawit alangkah baiknya petani mengerti hama dan penyakit apa saja yang menyerang cabai rawit. Sehingga mengurangi resiko terjadinya kegagalan.

Hama lalat buah yang menyerang dapat dikendalikan dengan penggunaan perangkap lalat buah yang mengandung metil eugenol. Hama-hama pengisap seperti kutu daun, kudu kebul, dan trips bisa dikendalikan dengan pemasangan mulsa plastik hitam perak dan juga pemasangan perangkap lekat kuning. Penyakit antraknose dapat dikendalikan menggunakan varietas yang tahan dan dengan penyemprotan fungisida secara selektif.  jika pengendalian OPT menggunakan pestisida, maka harus menggunakan 5 tepat yaitu  tepat jenis, tepat dosis, tepat volume semprot, tepat cara aplikasi, dan tepat waktu aplikasinya.

6. Panen dan Pascapanen

Pemanenan dilakukan ketika cabai rawit sudah berwarna agak merah dan merah.  Meskipun juga banyak yang dipanen saat kondisi masih hijau, karena permintaan pasar yang tinggi. Pada saat pemanenan ketika melihat buah yang rusak sebaiknya dimusnahkan agar tidak menyebabkan tumbuhnya penyakit. Buah yang dipanen dimasukkan dalam karung, jika tidak dijual langsung sebaiknya disimpan di tempat yang kering, sejuk dengan sirkulasi udara yang baik.


Posting Komentar untuk "Teknik Budidaya Cabai Rawit Untuk Pemula"